MENGAPA HARUS MENOLAK SBY DAN BERBUAT ANARKIS?

Kedatangan SBY ke Makasar dalam acara membuka rapat koordinasi Gubernur memicu reaksi keras dari sekelompok mahasiswa. Teriakan nada protes berisi caci maki mengawali penyambutan kedatangan SBY di bumi Makasar bahkan disertai aksi anarkis dengan saling berhadapan fisik dengan pihak keamanan. Tidak hanya itu, sweeping kendaraan polisi dan berplat merah sampai aksi merusak dan membakar mobil mewarnai aksi brutal mereka.
Ciri masyarakat Indonesia yang selama ini dijual ke manca negara sebagai masyarakat yang santun ramah tamah, tidak nampak pada diri sekelompok mahasiswa Makasar yang anarkis tersebut. Selama ini aksi-aksi mahasiswa yang mengusung isu demokrasi, keadilan, dan penegakan HAM di Indonesia dipuji-puji kalangan masyarakat baik dari politikus, pengamat, maupun sekelompok masyarakat yang berkentingan akan isu yang diusung dalam demo mahasiswa tersebut. “Perjuangan intelektual” begitu katanya.
Yang mereka usung memang mulia dan luhur untuk kemaslahatan rakyat, tapi bagaimana cara mereka menyampaikannya? Dengan cara mencaci maki, mengumpat, sumpah serapah apa itu cara yang santun? Apa dengan cara bakar membakar, rusak merusak, sampai benturan fisik itu masih bisa ditolerir sebagai perjuangan yang mulia? Sungguh memprihatinkan.
Apakah dengan tujuan yang mulia harus dengan membuat hak-hak orang lain yang juga berkepentingan di tempat itu boleh diganggu? Apakah suasana mencekam dan keadaan kacau balau bisa dimaklumi?
Apakah tidak sebaiknya bila ada yang ingin disampaikan kepada SBY, baik itu uneg-uneg, tuntutan dalam hal politik, hukum, dan pengrusakan lingkungan, korupsi, dan pelangggaran HAM tidak disalurkan pada lembaga-lembaga yang dibentuk untuk mengurus itu dan orang-orang yang bekerja pada lembaga tersebut seperti, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, KPK, Komnas HAM dll memang dibayar untuk bekerja mengurusi itu?
SBY adalah bapak dari negara Indonesia yang meliputi dari Sabang sampai Merauke yang dipilih sebagian besar rakyat Indonesia, mengapa hanya karena sebagian kecil dari kelompok masyarakat yang tidak senang dan kecewa karena kepentingan pribadi dan golongan, mereka dengan gagahnya menolak atau bahasa kasarnya mengusirnya. Tidakkah mereka ingat semua wilayah negara Indonesia adalah milik semua masyarakat Indonesia dan tidak ada yang merasa paling berhak memiliki? Berhakkah mereka mengusir seseorang dari rumahnya sendiri? Apalagi Bapaknya …..oh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s